Jose Mourinho dan Permainan Kata Darinya

February 12, 2014 Berita BolaBerita Olah RagaBerita Sepak Bola

Jose Mourinho dan Permainan Kata DarinyaJose Mourinho dan Permainan Kata Darinya – Manajer asal Portugal Jose Mourinho dan ucapan-ucapannya adalah sesuatu yang jadi sisi menarik dari dirinya selama berkarier sebagai manajer. Entah mambuat sebal orang lain, entah membuat senyum orang lain, pokoknya demikianlah Mourinho dengan sikapnya.

Mendapat julukan “The Special One” adalah salah satu imbas dari kata-kata yang tersusun lewat ucapannya. Anda yang masih ingat pasti tahu bahwa julukan itu muncul pada konferensi pers pertamanya ketika ditunjuk melatih Chelsea pada 2004 silam. Ketika itu, Mourinho baru saja membawa FC Porto menjuarai Liga Champions Eropa.

Kemudian, mulut Mourinho dengan lihai menaruh satu kata di sebelah kata yang lain. Beberapa bikin telinga manajer lawan panas bukan main, tapi buat pendukung Chelsea tentu membuat mereka tersenyum menyikapinya. Ambil contoh ketika dia menyebut Arsene Wenger sebagai “Tukang Ngintip” lantaran disebutnya selalu mengurusi urusan The Blues.

Sikap yang sudah menjadi kebiasaan demikian membuat Mourinho dinilai sebagai sosok yang kontroversial sekaligus cerdas dalam melatih sebuah klub. Dia tidak ragu untuk melontarkan pendapat yang ada, meski mungkin itu berat didengar orang. Bahkan dia tidak hanya melontarkannya kepada lawan saja, tetapi juga kepada  para pemainnya.

Saat menangani Inter Milan beberapa musim yang lalu, Mourinho sangat tidak suka dengan Mario Balotelli terutama sikapnya. Lihat saja bagaimana dia menggambarkan betapa buruknya Balotelli sekaligus meninggikan beberapa pemain senior berikut ini : “Jika Anda berlatih dengan Cambiasso dan Zanetti setiap hari tapi masih tidak berubah dengan Anda, maka ada yang salah.”

Mantan pelatih Real Madrid itu bahkan menyebut bahwa dia bisa menulis buku berisi 200 halaman mengenai ceritanya soal Balotelli ketika melatih Inter. Lebih lanjut, ketika ditanya apakah sedemikian bencinya dengan Balotelli yang merupakan mantan pemainnya, dia mengelak dengan cerdasnya.

“Mario seharusnya khawatir ketika saya berhenti berbicara tentang dia. Ketika itulah semuanya harus berakhir dengan mudahnya.”

Di suatu waktu dia pernah menggunakan buah melon sebagai analogi untuk pemain muda yang dimiliki. Ketika itu dia menuturkannya untuk Davide Santon yang masih muda, yang pada 2009 melejit masuk tim utama Inter.

“Saya tidak tahu apakah di Italia mereka mengatakan hal yang sama seperti itu. Tapi di negara saya, disebutkan bahwa melon itu bisa sangat menarik. Tapi, hanya dengan membuka dan memakannya kita baru bisa mengetahui ada apa dengan buah melon tersebut.”

“Ini sebuah proses evolusi yang harus dijalani, bergantung apakah kesempatan datang lebih cepat atau datang lebih lama. Untuk Santon yang masuk dalam skuat utama, dia muncul setelah kekalahan kami dari Atalanta pada pertandingan, karena waktu itu saya ingin memberi intensif negatif pada tim, supaya mereka lebih berhati-hati dalam bermain di pertandingan.”

kata-kata Mourinho masih banyak lagi, bertumpuk dan berdebu sekali, tapi sesekali Anda masih bisa melihatnya, tidak pernah usang di telan jaman.

Beberapa hari ini, dia menggunakan analogi kuda, mobil mewah, dan kalkulator untuk menggambarkan persaingan Chelsea dan Manchester City di Liga Inggris. Mourinho tetap mengatakan bahwa Chelsea hanyalah kuda kecil dalam persaingan dengan City dan Arsenal, menyiratkan anggapan bahwa dia menyebut Chelsea bukan favorit ketimbang kedua pesaingnya di musim ini.

Tapi, setelah menang atas Newcastle United pada pertandingan terakhir, Mourinho sepertinya sudah bosan bermain-main dengan analogi soal kuda yang pernah di analogikannya. Sambil duduk di meja konferensi pers sebelum pertandingan, dia tersenyum dan berkata :

It’s time to kill the horses.”

Isi yang ada di ruangan pun menyambut dengan tawa ucapan yang dikatakannya.